Mainkan Dawai Cintamu Lagi

Blog post ini adalah Pindahan dari blog aku yg satunya : Awalnya aku buat disini.

Disaat malam kembali terlihat, Puan kembali menghela nafas. Terdiam sejenak.

“Apakah mungkin, pelangi datang dimalam hari?..”.
Setelah itu, Puan kembali ke kuas dan kanvasnya. Melukis berbagai wajah-wajah dunia yang terlihat didalam fikirannya.

Esok paginya, Puan kembali beraktifitas. Mengunjungi rumah anak -anak cacat. Puan tinggal sendirian didalam rumah penginggalan orang tuanya. Pekerjaannya hanya sebagai penulis di Majalah atau pun Koran dan disaat senggan, Puan melukis. Bukan pekerjaan tetap, hanya jika ada yang membutuhkan cerita, dia akan membuat dan mengirimkannya.


Ibu Pengurus Panti: Selamat Pagi, Puan.. Bagaimana kabar hari ini?, kemarin kamu tidak datang kenapa?.. Arya terus menanyakan dirimu.

Puan: Iya Ibu, kemarin saya ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Jadi tidak bisa datang kesini. Bagaimana kabar anak-anak, Bu?.

Ibu Pengurus Panti: Mereka baik, hanya saja.. Dewa kemarin, penyakitnya kembali meradang. Dia kembali kejang-kejang. Ibu sungguh takut. Karena yang bisa merangkulnya hanya dirimu. Jadi Ibu agak sedikit khawatir..

Disaat mereka sedang asik berbincang, Arya datang dan langsung memeluk Puan sambil berkata..

Arya: Kakak.. kemarin kemana?, Arya tidak punya teman bermain..

Puan: Waah. Kakak minta maaf ya, Sayang. Jadi kemarin Arya main dengan siapa?

Arya: Aku hanya memainkan ini. Sambil menunjukkan mainan yang Puan buatkan untuknya. Dua buah origami yang berbentuk Burung dan Katak.

Puan: Okeey. Hari ini kita bermain bersama.. Kakak akan menemani kamu.

Arya adalah seorang anak Autis, dia dititipkan oleh keluarganya di panti. Karena keluarganya bukan merupakan keluarga yang berada dan mereka agak kesulitan dalam memahami sikap Arya yang menurut mereka aneh dan tidak biasa. Arya memang selalu berkata mengenai banyak hal yang hanya berada dalam halusinasinya saja. Entah apa. Oleh Karena itu, tidak ada yang sanggup bersamanya.

Semenjak Puan masuk ke Rumah Kasih, hanya dia yang menyanggupi untuk mengurus Arya. Setiap kali Arya mulai berbicara tentang banyak hal, Puan selalu masuk kedalam pembicaraan itu. Seolah-olah Puan juga melihat dan merasakan apa yang Arya bicarakan dan memperlihatkan ekspresi yang terpesona dengan ceritanya.

Seminggu kemudian, ada kunjungan dari pihak pers. Mereka datang untuk memantau dan melaporkan aktifitas Rumah Kasih ke dalam Koran untuk dibaca oleh masyarakat. Surya menemui Ibu Pengurus Panti, mereka berbincang sambil berjalan mengelilingi Rumah Kasih. Sesaat Surya terpaku dengan sosok Puan yang terlihat begitu riang bercanda dengan Arya.

Ibu Pengurus Panti melihat dan berkata: Itu Puan dan Arya. Puan adalah pengurus satu-satunya yang dekat dengan Arya. Mereka sungguh dekat. Bagaikan Ibu dan Anak.

Surya: Boleh jika kita kesana dan berbincang sejenak?

Perkenalan pun berlangsung.


Sudah satu bulan mereka bertemu dan saling memberikan kabar. Hari kamis pagi, Surya datang ke Rumah Kasih dan mencari Puan. Mereka berdua berbicang ditemani dengan Arya tentunya. Karena Arya tidak ingin ditinggal oleh Puan.

Surya: Mengapa kamu memilih ini, Puan?, Apa alasannya?, Boleh aku tahu?..

Puan: Karena aku tahu rasanya sepi, disakiti dan kehilangan. Oleh karena itu, aku tidak ingin orang lain merasakannya.
Cukup aku saja. Yang lain tidak perlu merasakannya.
Tuhan memberikan Cinta dan Kasih yang begitu besar kepadaku.
Dan aku rasa, aku wajib membagikannya kepada semua orang.

Surya bingung mendengarnya.

Tak lama, Surya pun berpamitan. Ditengah perjalanan keluar Rumah Kasih, Surya bertanya kepada Ibu Pengurus Panti mengenai Puan.

Ibu pengurus Panti, tersenyum dan berkata:

Itulah dia. Tidak pernah memperdulikan diri sendiri. Hanya sibuk mengurus orang lain. Tersenyum dan bercanda untuk semua orang yang dia kasihi.

Dia pernah berkata kepada saya, bahwa dia tidak sanggup melihat orang disekelilingnya merasa kesepian dan sedih. Oleh karena itu, dia selalu tersenyum dan selalu ada disaat siapapun membutuhkannya. Dia tidak pernah mengeluh. Semua dia simpan sendirian.

Akhirnya tanpa disadari, timbulah perasaan kasih didalam hati Surya untuk Puan. Setiap Sore, dia sempatkan untuk ke Rumah Panti dan mengantarkan Puan pulang ke Rumahnya.

Hingga suatu hari, saat telah sampai di rumah Puan, saat hendak membuka kunci pintu, Puan pingsan tak sadarkan diri. Surya terkejut dan langsung mengantarkan Puan ke Rumah Sakit. Beruntunglah, ternyata disana memang Puan sudah terdaftar sebagai salah satu pasien. Dokter pribadi Puan pun segera mendatangin kamar perawatan Puan. Setelah selesai memeriksa Puan, Dokter mengajak Surya keluar kamar dan berkata:

Anda Surya, bukan?

Puan bercerita banyak mengenai Anda, Puan sudah seperti anak saya sendiri.
Orang tua dia adalah sahabat saya.
Anda bisa pulang dan beristirahat di Rumah, kami akan menjaga Puan.

Surya: Baik Dok, terima kasih. Namun sebenarnya, penyakit apa yang sedang Puan derita?

Dokter: Maaf, saya tidak bisa memberitahukannya. Karena saya telah berjanji kepadanya untuk tidak memberitahukan siapa pun. Saya harap Anda mengerti.

Surya pun pulang dan esok siangnya dia menjenguk Puan.
Mereka melukis tawa dan canda.

Puan: Tahukan kamu, mengapa julukan pasien diberikan kepada mereka yang sedang sakit?
Pasien diambil dari kata Patient.
Yang mengandung arti sabar.

Dengan kata lain, mereka yang sedang sakit.
Membutuhkan kasih yang penuh dengan kesabaran tanpa batas.

Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba datang Ibu Pengurus Panti dan beberapa staff serta Arya.
Melihat kondisi Puan, semua merasa Pilu dan tak sanggup.

Ibu Pengurus Panti: Kenapa engkau tidak pernah bercerita, Anakku?..
Puan: Lidahku kelu, Ibu.. Setiap kali hendak berbicara mengenai ini.

Arya mengitip disalah satu tubuh Staff Panti.
Melihat itu, Puan tersenyum dan menggoda Arya: Heii. Siapa disana yang sedang mengintip?..

Arya menjulurkan lidahnya dan menampakkan diri dengan wajah marah.

Puan: Sini sayang, peluk Kakak. Arya pun mendatanginya dan Puan menyambutnya dengan pelukan.

Arya: Kakak, Arya sayang Kakak. Cepat kembali, ya?
Ucap arya terbata-bata.

Semua terkejut, karena untuk seorang anak yang mengidap penyakit seperti Arya. Tidak akan sanggup berbicara dengan baik.

Puan: Iya. Tunggu Kakak di rumah. Kakak akan kembali.

Dua hari setelah itu, kondisi Puan kian melemah.
Surya datang disaat tepat. Dimana Puan memang sedang meringis kesakitan.

Surya: Puan. Kamu kenapa?, sebentar, aku panggilan Suster.

Puan hanya tersenyum dan berkata: Tugasku disini sudah berakhir.
Semua yang terkasih telah kembali tersenyum dan berbahagia.
Aku rasa itu sudah cukup.

Tak ada alasan lagi aku untuk tetap bertahan.
Lilin itu sudah tidak memiliki jasad lagi.
Telah menguap bersama kasih yang dia berikan.
Hanya tersisa beberapa tetes yang akan terus mengalir dari tubuhnya hingga sinar itu meredup.

Surya terdiam melihatnya karena perlahan nafas Puan pun, menghilang.
Jasad Puan telah ditutup oleh selimut yang ia pakai di rumah sakit.

Surya dengan tangan bergetar, menghubungi Pihak Rumah Kasih.
Ibu Pengurus Panti, menerima kabar dan dengan segera memberitahukan kepada semua Staff.
Setelah itu, dia menghampiri Arya yang sedang duduk didekat jendela sambil memainkan origami.

Ibu Pengurus Panti: Arya, Kakak sudah pulang ke Rumah Tuhan. Dia tidak bisa bermain bersama kita lagi.

Arya diam.
Arya: Ibu bohong!.. tadi kakak datang kesini dan mencium aku.

Ibu Pengurus Panti: Ibu tidak berbohong, sayang..
Mendengar itu, Arya mengamuk memukul-mukul tubuh Ibu Pengurus Panti.

Semenjak itu, Surya selalu datang ke Rumah Kasih dan menggantikan Puan untuk menjaga Arya. Suatu saat, ketika sedang bermain dengan Arya, secara tak sengaja Surya melihat lukisan yang dibuat oleh Puan.

Dia memeluk lukisan itu dan berkata dalam sunyi:

Mainkan dawai cintamu lagi.
Sunyi hidup tanpamu.
Bisu tak bernada, kelu tak bersuara.
Hati merindu bernyanyi.
Kembali...

Kasih Universal tidak akan pernah hilang seperti jasad yang hancur termakan waktu.
Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Notes Dita Blog Design by Ipietoon