Wajah Kiri

Tidak, semua sama.
Tangan kiri menggenggam sebuah wajah yang telah usang;
Tak lama tangan kanan tersentuh dengan wajah baru. Elok.
Dalam hitungan detik, mampu menggetarkan mata dan sikap.

Bersolek merapikan rambut tanpa sadar wajah kiri melihat dan terluka.

Pembenaran hanya omong kosong.
Sang pemilik tangan tetap benar. Tidak terluka namun melukai.

Menggenggam erat tangan kiri, mencengkram.
Saat bosan, kembali mencari pembenaran tanpa dosa dan berjuta lidah ular meludah.

Sumpah mati akan kelam hidup lalu tetap dierat, tidak perduli wajah kiri.
Berani berhujat yang kembali lagi dengan pembenaran.

Hingga kapan?

0 komentar:

Posting Komentar

 
Notes Dita Blog Design by Ipietoon